Akuntansi.umsida.ac.id – Yudisium ke-35 Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FBHIS Umsida) menjadi ruang refleksi akademik tentang peran wanita dalam tata kelola perusahaan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr Sarwenda Biduri SE MSA ACPA menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Wanita dan Kinerja Perusahaan: Mengungkap Katalis yang Hilang” dengan menyoroti hubungan antara representasi wanita, inovasi, kemampuan manajerial, dan kinerja perusahaan.
Orasi ini berangkat dari persoalan penting dalam dunia bisnis modern, yakni masih rendahnya keterwakilan wanita dalam posisi strategis perusahaan.
Padahal, keputusan di level puncak memiliki pengaruh besar terhadap arah, daya saing, dan keberlanjutan perusahaan.
Baca juga: Pelatihan SPSS 2026: Bekali Mahasiswa Akuntansi UMSIDA Kemampuan Analisis Data Penelitian
Representasi Wanita Belum Cukup Tanpa Sistem yang Kuat
Dalam paparannya, Dr Sarwenda menjelaskan bahwa isu kepemimpinan wanita tidak dapat hanya dilihat dari jumlah keterwakilan.
Data global menunjukkan bahwa representasi wanita dalam kepemimpinan perusahaan masih rendah.
Hanya sekitar 22 persen posisi eksekutif tertinggi yang memiliki keterwakilan wanita.
Pada level manajemen senior, jumlahnya sekitar 13 persen, sedangkan anggota dewan eksekutif perempuan hanya sekitar 5 persen.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa ruang kepemimpinan korporasi belum sepenuhnya terbuka secara seimbang.
Namun, persoalan utama tidak berhenti pada rendahnya representasi.

“Representasi penting, tetapi representasi tanpa dukungan sistem, kemampuan, dan eksekusi hanya akan menjadi simbol,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penambahan jumlah direktur wanita tidak otomatis meningkatkan kinerja perusahaan.
Keterwakilan perlu dipahami sebagai potensi awal yang harus didukung oleh lingkungan organisasi, mekanisme kerja, dan kemampuan eksekusi yang kuat.
Lihat juga: Lewat Pasar Kampung Samiler, Mahasiswa Ikom Umsida Angkat Potensi UMKM Desa Wonosunyo
Inovasi Belum Selalu Menjadi Penguat Kinerja
Dalam orasi tersebut, Dr Sarwenda juga menyoroti perbedaan pandangan dalam kajian akademik mengenai hubungan antara direktur wanita dan kinerja perusahaan.
Sebagian penelitian menekankan hubungan langsung antara diversitas gender dan kinerja, tetapi belum banyak yang memasukkan faktor internal seperti kemampuan manajerial.
Ia juga menyinggung bahwa inovasi sering dianggap sebagai jalan penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Namun, dalam kajian yang ia paparkan, inovasi belum terbukti mampu menjadi penguat hubungan antara representasi direktur wanita dan kinerja perusahaan.

“Inovasi semata belum cukup menjadi jembatan yang mengubah diversitas kepemimpinan menjadi hasil finansial yang nyata,” ungkapnya.
Pembahasan ini bertumpu pada dua landasan teori, yakni Upper Echelon Theory dan Resource Based View.
Upper Echelon Theory melihat bahwa karakteristik pengambil keputusan dapat memengaruhi pilihan strategis perusahaan.
Sementara itu, Resource Based View menekankan bahwa keunggulan kompetitif lahir dari cara perusahaan mengelola dan mengembangkan sumber dayanya.
Kemampuan Manajerial Jadi Katalis yang Hilang
Pengujian yang disampaikan dalam orasi ini dilakukan pada perusahaan sektor consumer-based yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada periode 2019 hingga 2023.
Analisis diarahkan untuk melihat pengaruh direktur wanita terhadap kinerja perusahaan serta peran inovasi dan kemampuan manajerial sebagai faktor moderasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa representasi direktur wanita tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja perusahaan.
Orientasi inovasi juga belum cukup mengoptimalkan peran strategis direktur wanita.
Sebaliknya, kemampuan manajerial terbukti menjadi katalis penting.
Kemampuan dalam mengelola sumber daya, mengeksekusi strategi, dan menerjemahkan keputusan direksi menjadi tindakan operasional menjadi faktor yang dapat mengubah representasi menjadi kinerja.
“Keragaman adalah potensi, sedangkan kemampuan manajerial adalah wujud nyata yang menentukan keberhasilannya,” tegas Dr Sarwenda.
Melalui orasi ini, ia menekankan bahwa perusahaan perlu memperkuat level eksekusi, meningkatkan kompetensi manajerial, serta memastikan keterwakilan wanita berjalan seiring dengan pemberdayaan peran strategis.
Dengan demikian, diversitas tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar menjadi kekuatan dalam mendorong kinerja perusahaan.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah
















