Akuntansi.umsida.ac.id – Di tengah perkembangan sistem keuangan global yang kian kompleks, konsep keberlanjutan menjadi semakin penting.
Salah satu alternatif yang bisa dijadikan solusi untuk membangun sistem keuangan yang lebih berkelanjutan adalah dengan menerapkan akuntansi syariah.
Sistem ini tidak hanya menawarkan keuntungan ekonomi, tetapi juga mengedepankan prinsip-prinsip etika dan moralitas yang mendukung kesejahteraan sosial dan lingkungan.
Dengan perspektif yang lebih luas, akuntansi syariah dapat menjadi fondasi untuk menciptakan perekonomian yang lebih adil, transparan, dan bertanggung jawab.
Baca juga: Akuntan Muda dan UMKM: Kontribusi Nyata Ilmu Akuntansi bagi Ekonomi Lokal
Prinsip-Prinsip Akuntansi Syariah dalam Sistem Keuangan

Akuntansi syariah merupakan cabang akuntansi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip hukum Islam, di antaranya keadilan, transparansi, dan tanggung jawab sosial.
Dalam sistem ini, setiap transaksi yang dilakukan harus sesuai dengan ketentuan syariah, yang menekankan pada kegiatan ekonomi yang bebas dari unsur riba (bunga), gharar (ketidakpastian), dan maysir (perjudian). Transaksi yang diperbolehkan dalam akuntansi syariah adalah transaksi yang bersifat halal dan memberi manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat.
Prinsip keberlanjutan dalam akuntansi syariah menekankan pada pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa merugikan generasi yang akan datang.
Salah satu contoh implementasinya adalah dalam pendanaan untuk proyek yang mendukung lingkungan atau keberlanjutan sosial.
Akuntansi syariah tidak hanya memperhatikan keuntungan finansial, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dari suatu kegiatan ekonomi.
Hal ini menjadikannya sebagai alternatif yang dapat menjawab tantangan-tantangan sistem keuangan tradisional yang seringkali lebih mementingkan keuntungan jangka pendek.
Lihat juga: Mens Rea: Stand Up Comedy yang Menjadi Bisnis dan Pengatur Opini Publik
Peran Akuntansi Syariah dalam Perekonomian Berkelanjutan
Sistem keuangan yang berkelanjutan harus mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan pelestarian lingkungan.
Akuntansi syariah berperan penting dalam mencapainya, terutama dengan konsep zakat, wakaf, dan sukuk, yang berfungsi untuk mendistribusikan kekayaan secara lebih adil.
Zakat, sebagai kewajiban bagi umat Muslim, berperan dalam mengurangi kesenjangan ekonomi, sedangkan wakaf berfungsi untuk membiayai proyek-proyek sosial dan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sukuk, yang merupakan instrumen investasi berbasis syariah, juga dapat mendukung proyek-proyek infrastruktur yang ramah lingkungan dan sosial.
Dalam praktiknya, banyak institusi keuangan syariah yang telah mengimplementasikan prinsip keberlanjutan ini, baik dalam operasional maupun dalam produk-produk investasi yang mereka tawarkan.
Misalnya, bank-bank syariah menyediakan produk pembiayaan yang mendukung usaha-usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.
Produk-produk ini menjadi pilihan yang menarik bagi para investor yang ingin berinvestasi dengan tetap menjaga komitmen terhadap etika dan tanggung jawab sosial.
Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, akuntansi syariah menawarkan solusi bagi perekonomian yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Ke depan, integrasi antara prinsip syariah dan praktik akuntansi yang transparan dan beretika akan semakin penting untuk mewujudkan sistem keuangan yang tidak hanya mengutamakan keuntungan, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan bersama dan keberlanjutan planet ini.
Kesimpulannya, akuntansi syariah bukan hanya sebagai alternatif dalam dunia keuangan, tetapi juga sebagai pilar dalam membangun sistem keuangan yang berkelanjutan.
Dengan prinsip-prinsip yang berlandaskan pada moralitas dan etika, akuntansi syariah dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan perekonomian yang adil dan berkelanjutan.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















